Indonesia Sulit Jadi Negara Maju Jika Tidak Ada Perbaikan Ekonomi

Foto/Ilustrasi: Anindita, Anisa

Jakarta – Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun belakangan ini mencapai angka 5,27% yoy.  Realisasi laju pertumbuhan ekonomi selama era reformasi ini belum mampu menyamai capaian era orde baru.

Hal itu dikatakan oleh Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Nawir Messi dalam konferensi pers “Pemanasan Debat Kelima: Tantangan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”, di Jakarta, Kamis (11/04/2019).

“Jika pertumbuhan lima persenan yang sudah terjadi dalam 6 tahun ini tidak segera diakselerasi, maka akan sulit bagi Indonesia keluat dari jebakan negara berpendapatan menengah, sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Nawir,  mengingat perekonomian Indonesia ‘cepat panas’ atau overheating, maka target – target akselerasi pertumbuhan ekonomi harus tetap mempertimbangkan akses stabilitas.

Selain masalah kuantitas pertumbuhan ekonomi, Nawir menambahkan, dari sisi kualitas juga perlu diperbaiki.  “Dukungan anggaran negara meningkat, kebijakan stimulus perekonomian tidak kekurangan, posisi sebagai negara layak investasi diperoleh, namun sayangnya kesemuanya itu belum cukup untuk menjawab tantangan peningkatan angkatan kerja, menurunkan kemiskinan secara lebih signifikan, serta mengurangi ketimpangan,” ucapnya.

Sementara itu, wajah ketimpangan pembangunan tercermin dari bergemingnya pulau Jawa terhadap pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto). Lima tahun lalu, tepatnya 2014, Nawir menyebut bahwa porsi Pulau Jawa sudah mencapai 57,4%.

“Saat ini, porsi Pulau Jawa justru naik 58,48% dalam pembentukan PDB nasional. Ini menggambatkan bahwa pembangunan masih Jawa Sentris,” jelas Nawir.

Penulis: Anindita, Anisa