Kementerian PUPR Siapkan Berbagai Kebijakan Hadapi Tantangan Rantai Pasok Infrastruktur

Foto/Ilustrasi: Logload
Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menghadapi beberapa tantangan terkait rantai pasok, diantaranya operasi dan pemeliharaan infrastruktur yang terbangun hingga tahun 2019, konstruksi dan industri infrastruktur yang terbangun dari tahun 2019 hingga 2024, serta transformasi industri konstruksi dampak revolusi Industri Konstruksi 4.0.

Hal itu dikatakan Sekretaris Ditjen Bina Konstruksi Dewi Chomistriana, saat jumpa pers di Media Center Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (21/02). “Selain itu, masalah pada pembiayaan infrastruktur, optimalisasi produksi dan penggunaan material dan peralatan dalam negeri, permasalahan GAP antara supply and demand material dan peralatan konstruksi, serta menciptakan sistem informasi yang terintegrasi,” tambahnya.

Maka untuk menyelesaikan beberapa tantangan tersebut, Dewi menjabarkan beberapa kebijakan yang telah dibuat pihaknya, salah satunya dengan mengembangkan kompetensi keahlian/spesialis, khususnya tenaga kerja konstruksi spesialis, kontraktor spesialis, perumusan regulasi pengikatan kontraktor umum dan spesialis, serta perbaikan regulasi struktur dan usaha konstruksi spesialis dan umum.

“Selanjutnya, untuk menjawab permasalahan pembiayaan infrastruktur, kita harus melakukan creative financing untuk pembangunan infrastruktur/pembiayaan investasi infrastruktur, serta menjamin pasar pekerjaan bagi kontraktor spesialis,” lanjutnya.

Kemudian, untuk optimalisasi produksi dan penggunaan material dan peralatan dalam negeri, katanya, dengan melakukan peningkatan penggunaan material dalam negeri, misalnya Aspal Buton, Beton, Precast dan Alat Berat produk PT Pindad.

“Lalu, untuk mengatasi adanya GAP antara supply and demand material dan peralatan konstruksi, kita bisa melakukan pemetaan lokasi material, peralatan, registrasi material dan peralatan konstruksi. Cara kedua dengan mendorong produksi material dan peralatan dalam negeri. Terakhir, menciptakan sistem informasi yang terintegrasi, caranya dengan kolaborasi antara pelayanan konstruksi dengan didukung sistem yang terintegrasi,” pungkasnya.

Penulis: Anindita, Anisa