Agar Milenial Bisa Beli Rumah, Berapa Persen Gaji Harus Disisihkan?

Foto/Ilustrasi: Apartementtherapy
Jakarta – Bagi sebagian anak muda, memiliki rumah pertama untuk dirinya sendiri agak berat karena harganya tak tak murah. Maka tak heran jika beberapa dari mereka memilih jalan-jalan ketimbang menabung membeli properti.

Padahal, jika mau taat menyisihkan pendapatan per bulan, bukan mustahil milenial memiliki rumah sendiri. Perencana keuangan Ligwina Hananto mengatakan, umumnya milenial menyisihkan 5-10 persen untuk tabungan jangka pendek. Biasanya mereka menabung untuk rencana liburan, persiapan pensiun, dan sebagainya. Porsi tersebut belum termasuk untuk rumah.

“Begitu menyisihkan (pendapatan) untuk rumah, kan ada urgensinya, harus menyiapkan lebih banyak bisa 20-30 persen (dari pendapatan),” ujar Ligwina di Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Misalnya, apabila gaji sebesar Rp 10 juta, setiap bulan yang ditabung untuk uang muka rumah sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta. Jika nilai simpanan konsisten dan komitmen menabung tiap bulan kuat, dalam waktu tiga tahun saja uang untuk DP rumah sudah terkumpul. Namun, rumah atau apartemen yang dibeli juga harus sesuai dengan kemampuannya.

“Kalau cuma bisa nabung Rp 2 juta per bulan, tapi maunya beli apartemen Rp 1,5 miliar ya agak susah. Isunya bukan lagi mampu mengumpulkan, tapi kesadaran dengan kemampuannya,” kata Ligwina.

Anak Milenial Ligwina sering berpesan pada kliennya, terutama anak muda yang belum menikah, agar selalu menyisihkan uang untuk membeli properti dari jauh hari.

Sebab, rumah tinggal merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi, apalagi jika sudah berkeluarga. Ligwina menganggap menanamkan pola pikir soal pentingnya rumah bagi milenial cukup membutuhkan trik.

Caranya tidak bisa dengan mendorongnya untuk membeli rumah, tapi beberkan keuntungan apa saja yang didapat jika memiliki rumah. “Kira harus pikirkan apa urgensinya punya properti,” ungkap dia.
Sumber: Movanita, Ambaranie Nadia Kemala. (2019). Dikutip dari kompas.com